Senin, 27 Oktober 2025

Aku yang baru - Melepas status WNI untuk menjadi WNA

Diposting oleh ernst di Senin, Oktober 27, 2025 0 komentar

Nggak disangka ternyata aku masih punya akses untuk halaman blog ini. 11 Tahun kemudian aku memutuskan untuk kembali menulis. Aku yang dulu adalah seorang gadis yang begitu menggebu-gebu jiwanya. Begitu banyak semangat dan mimpi yang ingin diraih. Aku hampir tidak mengenali diriku yang dulu itu. 11 tahun yang lalu itu. Rasanya baru kemarin aku lulus dari SMA di Malang. Kemudian melanjutkan studi di jurusan Pendidikan dan Sastra Jerman di Universitas Negeri Malang. Kampusku itu ternyata juga sudah mengalami sekian banyak perubahan. Dulunya aku berkuliah di kompleks Gedung D7. Ternyata setelah aku lulus pada tahun 2016 dan kembali lagi di bulan Juli 2025, perkuliahan sudah tidak diadakan lagi di kompleks itu.

Aku jadi perlahan berpikir, apakah aku benar-benar sudah kehilangan sentuhan dari diriku yang dulu semenjak aku meninggalkan Indonesia?

Setelah lulus di akhir tahun 2015, tepatnya Desember 2015 dan setelah aku melewati upacara wisuda di bulan Feburari 2016, aku pergi ke Jerman demi mengejar mimpiku yang sudah aku tanam sejak terlalu lama. Kalau tidak salah ketika aku berumur 15 tahun. Aku selalu bermimpi untuk pergi ke luar negeri. Saat itu belum punya tujuan pasti. Tetapi suatu hari aku menemukan kumpulan gambar bunga-bunga tulip dari taman bunga Keukenhof di Lisse, Belanda. Sejak saat itu aku mulai bermimpi untuk bisa hidup di Eropa. Mungkin pikiranku juga saat itu sudah tenggelam agak terlalu dalam sehingga saat pelajaran bahasa indonesia itu - saat itu aku masih kelas 10 SMA, aku menuliskan sebuah cerpen yang berlatar belakang di taman bunga Keukenhof. Aku cukup bangga dengan hasil karyaku itu sehingga guruku pun memberikan aku pujian di depan teman-teman sekelasku. Jadi aku menjadi semakin percaya diri dengan kemampuan menulisku. Dia pula sosok yang memberiku inspirasi dan motivasi untuk mulai rutin menulis di blog.

Jadi kunjungan terakhirku di Malang adalah di bulan Juli 2025. Kemudian ketikan aku pulang kembali ke Jerman pada awal bulan Agustus, aku mendapat surat dari BAMF (Bundesagentur für Migrations und Flüchtlinge). Isinya menyatakan bahwa pengajuan permohonanku untuk menjadi warga negara Jerman telah diterima dan sudah selesai prosesnya. Jadi aku diundang untuk datang ke kantor mereka untuk mengambil Einbürgerungsurkunde (Surat keterangan kewarganegaraan). Hatiku begitu gembira dan emosiku jadi meluap-luap karena dipenuhi oleh kegembiraan. Aku bersama dengan pasanganku ketika membuka surat itu dan aku ciumi dia dan kupeluk dia begitu erat. Surat ini adalah tanda akan kehidupanku yang baru. Bagian yang baru. Pada tanggal 5 Agustus 2025, aku resmi menjadi warga negara Bundesrepublik Deutschland.

Sebelum pengajuan naturalisasi di Jerman, aku telah mempertimbangkan matang-matang tentang keputusanku ini. Sejujurnya tidak sulit untuk mengambil keputusan untuk melepaskan WNI. Aku sudah tidak bisa lagi membayangkan untuk kembali hidup di Indonesia. Hatiku yang selalu menolak untuk tinggal selamanya. Mungkin untuk kunjungan keluarga atau berlibur. Tetapi tidak untuk menetap.

Kalau ditanya, kenapa lebih memutuskan pergi? Sebenarnya ada ribuan alasan dan penyebabnya. Tetapi sekarang ini bukan momen yang pas untuk berbagi tentang alasan dan penyebab itu. Mungkin akan aku tulis di postingan selanjutnya.

Sekarang ini aku lebih ingin mengeluarkan rasa gembiraku karena akhirnya aku menjadi warga Uni Eropa. Itu artinya, aku bebas untuk tinggal di mana saja di dalam lingkup UE. Bisa bekerja di mana saja dalam UE. Dan bisa berkelana ke lebih banyak negara di planet ini tanya harus mengurus ijin kunjungan terlebih dahulu. Setidaknya tidak serumit ketika masih punya paspor WNI.

Penyesalan? Saat ini belumlah ada.  

Aku tahu mengenai berita-berita yang beredar di Indonesia mengenai hastag #kaburajadulu. Serta berita mengenai kerusuhan di bulan Februari 2025 dan Agustus 2025. Berita-berita ini sebenarnya membuat aku sedih hingga aku menangis-nangis. Aku sedih melihat negara kelahiranku hanya menjadi sumber kemakmuran oleh kaum elit Indonesia. Aku marah. Tapi aku tidak bisa apa-apa. Yang aku pikirkan ketika itu hanyalah fokus dengan kebahagiaan dan tujuan hidupku sendiri. Namun bukan berarti rasa empati dalam benakku sudah mati. Justru melihat NKRI dari sudut pandang yang lain lebih bisa membuat aku jadi iba dan prihatin dengan rakyat sipil yang ada di Indonesia. Berdoa pun aku tak bisa, karena aku tidak bertuhan. Berharap tidak ada gunanya, karena harapan adalah perasaan artifisial yang tujuannya hanya untuk menenangkan diri sendiri. Jadi itu omong kosong. Aku menerima perasaan sedih ini yang disebabkan oleh berita-berita kerusuhan itu. Tetapi aku tidak ingin larut di dalamnya. Aku masih punya tanggung jawab besar untuk menjaga kewarasanku dan kebahagiaanku. Aku adalah Tuhan untuk diriku sendiri. Kebebasan yang ada di hidupku ini aku raih dengan jerih payahku sendiri dan oleh ijinku sendiri. Tidak ada pihak lain seperti ruh atau zat tidak terlihat yang ikut andil di dalamnya.

Jadi inilah aku. Setelah 11 tahun lamanya mengejar mimpi di usia remajaku. Hingga akhirnya aku menjadi wanita dewasa yang hidup di belahan dunia lain. Dengan hasil kerja kerasku sendiri. Aku begitu bangga dengan diriku. Tetapi aku tidak boleh lupa dengan kewajiban-kewajibanku yang baru sebagai warga negara Jerman.

 

Der Sonnenaufgang Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review